Kenapa saya galau

Galau,galau,galau….itu yang sering diungkapkan orang orang jaman sekarang. Tidak hanya remaja, anak kecilpun bisa galau saat ini bahkan orang dewasa sampai kakek nenek semua bisa galau akhir akhir ini.

Sebenarnya galau itu sudah ada sejak jaman nabi, sejak jaman dahulu kalau. Pertanyaannya kenapa baru tren hari ini? Makanya saya posting ” kenapa saya galau” sebenarnya pertanyaan yang pas ” kenapa saya ‘ikut’ galau??” untunglah galau  masih milik umum untuk sampai detik saya menulis ini, jadi belum ada yang merasa memiliki secara pribadi, Hehehehe….

Baca Juga :  Cara Setting Mur Kontrol Tekanan Pressure Switch Pompa Air
galau
galau

Galau, kata ini sepertinya sudah lama tidak muncul diperedaran kata kata yang dipakai sehari hari pada era remaja saya antara tahun 1990 sampai dengan 2000. Jaman itu masih terbiasa dengan kata “gelisah” , dan sepertinya kata gelisah itu lebih pas untuk menyatakan keadaan hati. Misalnya “…. gelisah hati gelisah sejak kepergianmu, tak sabar hati tak sabar menanti kedatanganmu…..dst” jadinya aneh kalu menjadi”….galau hati galau sejak kepergianmu….dst”, bukankah itu lagu “kerinduan”??

Memang harus disadari dalam era gaul inipun kata kata akan semakin mendekati kata gaul.Misalnya ” si gaul lagi galau” padahal ” si galau males gaul”.

Ditengah kesibukan dan bermacam aktifitas, tentunya akan muncul kejenuhan. Dan kejenuhan itu akan memicu ketidak seimbangan perasaan dan fisik. Secara umum galau memang hal yang wajar dan masih bisa ditorelir sebagai sesuatu perbuatan yang manusiawi.

Akan tetapi ke”galau”an sering terlalu di ekspos pada akhir akhir ini, entah di kampus, di tempat kerja, dan lebih lebih di sosial media seperti facebook, tweeter, yang langsung menjadi konsumsi publik untuk mengetahui keadaan seseorang tanpa menafikan bahwa sebagian orang menjadi orang lain di suatu kumpulan jejaring sosial.

Semua orang memang pernah merasakan galau, meskipun dengan frekwensi yang berlainan. Semua orang juga berbeda dalam mengungkapkan kegalauannya. Tetapi alangkah baiknya disaat tiba keadaan galau bisa menyikapi dengan lebih dewasa, dalam artian bahwa kegalauan tidak menjadikan kita menjadi seseorang yang merasa paling ” tidak beruntung”.

Disaat itulah sebenarnya saat bisa mawas diri dan saat dimana bisa mengerti dan menyimpulkan apa hal yang membuat kita galau. Masalah pekerjaan? masalah sekolah? masalah dengan teman?pacar?

Dan kenapa saya galau?

Itu pertanyaan bagus, karena kalau saya tidak galau saya tidak akan menulis posting ini.

Hanya sekedar intermezo diantara posting posting yang lain: Teknik, Wisata, Tips,dll.

        Abi Royen
Loading...
loading...

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.