Manfaat Ubi kayu / Singkong sebagai bahan pakan

Diposting pada

Manfaat Ubi kayu / Singkong sebagai bahan pakan

    Pada tahun 1957 Oyenuga dan Opeke memulai penelitiannya dalam pemanfaatan ubi kayu/ singkong sebagai bahan pakan. Penelitian sebelumnya juga di lakukan oleh orang Malaysia pada tahun 1930 an.
    Pembelian dalam skala besar untuk penyediaan ubi kayu sebagai bahan pakan dewasa ini di lakukan oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), yang mengimport sebagian besar bahan bakunya dari Thailand. Pada tahun 1975 dan 1976 Indonesia juga mengeksport gaplek dan chips Lampung sebanyak 180 dan 140 ribu ton.

    Potensi ekonomi negara negara MEE bagi ubi kayu sebagai bahan baku penyusun pakan telah di ketahui sejak 1960 an, pada saat perusahaan perusahaan Jerman menawarkan mesin mesin pengolah ubi kayu ke negara negara produsennya , sekaligus menyiapkan pasar dan angkutan yang teratur ke Eropa. Tahun 1962 kebutuhan ubi kayu Eropa mencapai 413.704 ton, meningkat pada posisi 1,5 juta ton pada tahun 1971.
    Pesatnya pertumbuhan permintaan terhadap ubi kayu sebagai bahan penyusun pakan di Eropa berkaitan dengan kebijakan pertanian bersama ( Common Agricultural Policy) di negara negara MEE sehubungan dengan harga harga energi, protein, dan serealia di pasaran internasional. Sejak dasawarsa 1970 an , pertumbuhan tahunan konsumsi ubi kayu di Eropa mencapai 13%; melebihi kecepatan pertumbuhan pakan sendiri yang hanya 10%.
    Kandungan energi dan harga ubi kayu yang lebih murah daripada serealia merupakan daya tarik ekonomi bagi para penyusun pakan. Dengan penambahan protein dari sumber lain, misalnya dari bungkil kedelai, mereka dapat memproduksi bahan pakan berkualitas cukup baik dan harga yang jauh lebih ,urah.
    Dua faktor tambahan, kualitas fisik suatu bahan penyusun pakan makin besar peranannya mengingat pabrik pabrik pakan modern dewasa ini tidak sefleksibel pabrik pabrik pakan sebelumnya. Misalnya chips atau gaplek yang panjangnya melebihi 15cm tidak mudah di produksi atau di proses secara pneumatik. Penyediaan ubi kayu dapat menjadi masalah lain , karena penyalurannya dapat tidak di atur atau bahkan sama sekali tidak ada. Dalam istilah ekonomi hal ini disebut sebagai schedul penyaluran jangka pendek yang tidak elastis.
    Permintaan ubi kayu akan selalu meningkat jika penyediaan dan penyalurannya cukup, menurut kualitasnya yang sesuai dengan permintaan, dan harganya tepat. Standar kualitas ubi kayu yang penting adalah: kelembaban, lebih kecil dari 13 – 14%; kandungan pati, lebih besar dari 70 – 75%; kandungan serat , kurang dari 5%; dan bahan asing , kurang dari 3%.
    Meskipun dewasa ini dikenal tiga jenis produk ubi kayu untuk bahan baku pakan, yaitu gaplek, chips, dan pellet, namun diperkirakan sebagian besar perdagangan ubi kayu di kemudian hari akan berupa pellet karena mudah perawatannya serta murah biaya angkutannya.
Loading...
loading...
Gambar Gravatar
Saya bekerja di sebuah perusahaan Marine Service di Batam, aktivitas saya setiap hari selain melakukan kegiatan pokok di perusahaan juga menulis di blog, membangun web. Saya nge-blog sejak 2009 dan merupakan hobi sekaligus saya berbagi pengalaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.