Mojodoyong

Mojodoyong 2013

     ….tentang aku dan tanah moyangku yg dulu….
                 Mungkin saja diam…..atau hanya sekedar bertahan berdiri dengan berusaha menguatkan otot otot kaki, agar tidak goyah dihempas badai.

                         Sampai melupakan bahwa semua butuh perubahan, bukan hanya meneruskan sejarah.
 Aku pikir elang pun bisa merasakan, bahwa dia tetap mencengkeram dahan yang sama dari waktu ke waktu, memiliki pandangan yang tajam pun rasanya sia sia, bila tidak ada satupun yang membuat penyegaran mata yg baru.
       Itulah yang terjadi, hanya diam dan ngotot bertahan. Mencoba menengok kesebelah dan kesebelah lagi dan kembali melihat apa yang di lakukan orang orang terhadap hamparan yang kusebut kampung halaman , rasanya ironis. Aku menilai tidak terjadi sesuatupun atas tanahku yang dulu, tetap statis.
    Tanyakan pada orang yang jarang melihatmu tentang dirimu, itu akan lebih realistis. Dan akan terjawab lagi” bahwa tidak terjadi sesuatupun dengan kampung halamanku” yang aku sebut “desaku yang kucinta” waktu dulu.               Apapun alasannya , perubahan itu lebih mengacu ke fisik…dan itu tidak terlihat dimataku, wajahmu tetap kusam, tanpa bedak, tanpa gincu. Kesalahan yang berulang terhadap hamparan ini. 
   Tanyaku kenapa? apakah terlalu besarnya uang untuk memulai pengabdian? sehingga melupakan bahwa sebenarnya pengabdian itu adalah pengorbanan.

oleh : Abi Royen
Baca Juga :  Sounding Tangki Kapal
Loading...
loading...

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *